![]()
Kali ini saya bercerita agak panjang dan [mungkin] bergaya reportase:
Hari Minggu kemarin (7 Okt 2007) saya ikut menjadi peserta Ketoprak u/
memperingati HUT kota Yogyakarta. Tetapi bukan sebagai pemain Ketopraknya
melainkan menjadi pemain Samsi dan Liong perkumpulan saya: HOO HAP HWEE
(Perkumpulan Budi Abadi). Mengapa sampai Samsi-Liong diikutsertakan dalam
pentas Ketoprak Kolosal tersebut?
Ternyata pentas Ketoprak tersebut melakonkan P. Mangkubumi yg memberontak
pada Belanda dan kemudian mendirikan pemerintahan sendiri yang disebut
dengan Ngayogyakarto Hadiningrat. Ternyata lagi, menurut salah satu
sutradaranya, yaitu pak Bondan Nusantara (ada 3 sutradara dalam pementasan
ini); P. Mangkubumi yang kemudian bergelar HB I, menjalin hubungan baik
dengan etnis Cina di Yogyakarta. Etnis ini dipercaya oleh beliau u/
mengelola harta dan inventaris Kraton, karena beliau merasa tidak
menguasai perdagangan dan tidak dapat menghitung kekayaan (”menguangkan”)
harta dan inventaris Kraton. Oleh karena itu muncul daerah yang disebut
dengan Pajeksan.
Nah, Samsi-Liong ini sebagai perwujudan kesenian etnis Cina yang dalam
pentas Kethoprak tsb. tidak hanya sebagai “tempelan/pemanis” saja, tetapi
benar2 masuk dalam skenario. Samsi-Liong ini mewakili kehebatan P.
Mangkubumi dalam berperang melawan Belanda.
“Kae deloken .. perange P. Mangkubumi kaya Naga ngamuk!” begitu salah satu
dialog dalam Ketoprak yg kemudian langsung diikuti dengan pementasan
Samsi-Liong.
Begitulah, tenyata etnis Cina ikut membangun kejayaan Kasultanan
Ngayogyakarto Hadiningrat. Etnis lain, yaitu Arab dan India; tidak masuk
dalam sejarah ini. (Setidaknya menurut Bondan Nusantara selaku salah satu
sutradaranya)
Wuih, sudah bertahun-tahun (kira2 sdh 5 tahun-an) tidak bermain Samsi ..
Badan sakit semua … Hihihi … Tetapi sangat puas dan senang bisa
bermain Samsi lagi, apalagi bermain dihadapan para pejabat YK, dari Sri
Sultan HB X, Walikota YK, Ketua DPRD YK, dll.
Hmmm ….
Jika ingin melihat atraksi permainan Samsi-Liong HOO HAP HWEE
(Perkumpulan Budi Abadi) di Kraton Yogyakarta, klik link ini.






Latihan terus dan teruskan pada generasi muda, sebab siapa lagi yang menghormati budaya leluhur kalau tidak kita juga, betulllll
Betul sekali pak Tulus …