Kalimat di atas sering saya gunakan untuk menyemangati teman-teman ataupun diri sendiri ketika mempelajari sesuatu yang terasa sangat sulit. Saya pernah mengamati anak TK yang pertama kali belajar penjumlahan. Sepertinya sangat sulit, tetapi setelah terbiasa menjumlahkan bilangan, dengan mudahnya anak tersebut dapat menjumlahkan bilangan-bilangan yang diberikan (tentu saja masih sebatas jumlah jari tangan dan kaki).
Saya masih ingat ketika terpaksa belajar bahasa Jawa Kromo Inggil karena tuntutan kurikulum sekolah (pada waktu itu). Saat itu saya sangat kesulitan untuk bicara dalam bahasa tersebut, apalagi menerjemahkan ke bahasa Indonesia. Tetapi ketika saya setiap hari bicara dengan bahasa Jawa Kromo Inggil kepada tetangga yang abdi dalem Kraton, maka bahasa tersebut dapat dengan cepat dikuasai dan saya bisa menggunakannya dengan baik.
Sayangnya, sudah lebih dari dua puluh tahun saya tidak menggunakan bahasa tersebut, sehingga saat ini saya sudah tidak dapat lagi menggunakan bahasa tersebut. Kalaupun dipaksakan, sudah tidak lancar alias “pating grathul”, karena memang sudah tidak terbiasa menggunakannya.
Contoh yang lain adalah ketika saya belajar komputer. Sejak awal saya tidak pernah belajar secara khusus Microsoft Windows. Saya menggunakan Microsoft sejak adanya MS-DOS 3.0 sampai Windows XP bahkan Vista sekarang ini. Demikian juga dengan produk Microsoft yang lain, yaitu Microsoft Office, saya tidak pernah belajar secara khusus. Sebagian besar dari kita sepertinya memang begitu: tidak pernah secara khusus mempelajari Microsoft Windows. Mengapa kita bisa menggunakannya? Karena kita terbiasa dan terpaksa menggunakannya untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari. Kita bisa karena biasa dan terpaksa.
Jika kita sudah menyadari hal itu, maka sulitkah kita belajar Linux? Bisakah kita menggunakan Linux? Selama kita tidak mau untuk terbiasa dan terpaksa menggunakannya, maka dijamin tidak akan pernah bisa menggunakannya. Keuntungan apa yang diperoleh dengan mengunakan Linux? Yang jelas Linux lebih kebal terhadap serangan virus, dan yang pasti Universitas tidak perlu lagi menganggarkan biaya pertahun untuk lisensi Microsoft yang sangat mahal (lisensi Microsoft berlaku tiap tahun).
Ada alternatif lain yang lebih mahal dari Linux, yaitu MacOS X yang merupakan Sistem Operasi Macintosh keluaran Apple Inc. Disebut lebih mahal, karena penjualan MacOS X dibendel dengan komputernya. Artinya, ketika kita membeli komputer Mac dari Apple Inc., pastilah MacOS X sudah terpasang; kita tinggal install aplikasi lainnya. Disamping itu, harga komputer Macintosh memang lebih mahal dibandingkan harga PC.
MacOS X juga lebih kebal terhadap virus dibandingkan dengan Microsoft Windows, karena MacOS X berbasis UNIX yang juga merupakan “orang tua” Linux. Sehingga dapat dikatakan bahwa Linux dan MacOS X merupakan “kerabat dekat”.
Saya merasa bahwa “bisa karena biasa dan terpaksa” merupakan hal yang manusiawi dan tidak istimewa, tetapi terkadang kita tidak menyadarinya. Kita tidak mau mengubah hal-hal yang sudah biasa ke hal-hal yang baru dan “tidak biasa” apalagi “terpaksa”.
Bukankah manusia terlahir memang untuk belajar, selalu belajar dari lahir sampai sesaat sebelum mati. Belajar itu sulit? Jika demikian, marilah kita biasakan dan paksakan diri untuk belajar. Jika kita biasakan dan paksakan diri untuk belajar, maka kita pasti bisa belajar.
Untuk memulai supaya biasa, marilah kita mencoba. Mencoba untuk biasa sehingga bisa. Trying is learning. Setuju?
Bisa karena Biasa dan Terpaksa …
Oktober 31, 2007 oleh iwan binanto






salam kenal,,
terus semangat buat bikin blog n artikelnya bermamfaat
-putra-
http://easystudy.wordpress.com
http://footballseven.wordpress.com
http://funphoto.wordpress.com
[...] berkurang banyak; ini menakutkan saya. Mengapa ? Karena menjadi tidak terbiasa menggunakannya (baca artikel saya ttg hal itu). Mac OS X menjadikan saya mempunyai FreeBSD dan Linux sekaligus dengan tampilan grafis yang lebih [...]