Di suatu desa, hiduplah sebuah keluarga yang sejahtera. Keluarga ini terdiri dari sepasang suami-istri dengan dua anak (laki-laki dan perempuan). Mereka memiliki rumah yang besar, kebun yang luas, dan beberapa hewan ternak; diantaranya sapi, kambing, dan ayam.
Akhir-akhir ini keluarga itu merasa tidak bahagia lagi; suami-istri sering cek-cok, kedua anaknya sering rebutan mainan atau barang lainnya. Kabar terakhir suami-istri tersebut “pisah ranjang”. Tragis! Bayangkan saja, keluarga itu dapat dikatakan tidak kekurangan suatu apapun!
Sang suami merasa resah dengan keadaan ini (sebenarnya istrinya juga resah ..). Kemudian pergilah sang suami ke “orang pintar” yang ada di desa tetangga untuk mencari solusi. Sang suami menceritakan semuanya kepada “orang pintar” itu dan meminta suatu nasehat untuk jalan keluar dari masalahnya. Sang suami menduga ada yang tidak beres dengan rumahnya.
Setelah mendengar dan berdialog dengan sang suami, si “orang pintar” ini kemudian memberi suatu nasehat,
“Mulai hari ini, untuk menghilangkan hawa negatif dari rumah itu; maka hewan ternak: sapi, kambing, dan ayam dimasukkan ke dalam rumah saja. Ini akan menetralisir hawa negatif yang ada!”
Tanpa adanya pikiran logis atau pikiran lainnya, sang suami segera melaksanakan nasehat si “orang pintar” ini. Alhasil, kondisi rumah tangga menjadi tambah tidak karuan. Bayangkan saja, hewan ternak dimasukkan dalam rumah!
Belum ada satu hari, sang suami datang lagi ke rumah “orang pintar” tersebut dan komplain atas nasehat yang sudah diberikan. “Bagaimana ini pak, rumah saya menjadi tidak karuan. Ayamnya menjadi liar; terbang kesana kemari, kambingnya ribut, bahkan sapi nendang-nendang dan nyeruduk-nyeruduk sampai lemari saya rusak parah!” begitu komplain sang suami.
“Oh … Mengapa bisa begitu yach .. seharusnya tidak terjadi!” sahut “orang pintar”. Kemudian “orang pintar” berdiam agak lama, dan berkata, “Kalau begitu, keluarkan ayam dari rumah. Ayam ini gara-garanya ..”.
Sang suami kemudian pulang dan menuruti apa kata “orang pintar” tersebut. Hasilnya memang agak mendingan. Ayam sudah tidak terbang kesana-kemari dan kambing serta sapi sudah mulai tenang.
Sehari kemudian sang suami kembali lagi ke “orang pintar” dan komplain lagi, “Bagaimana ini pak, kambing dan sapi ini membuat pekerjaan rumah menjadi lebih berat! Kedua anak dan istri saya selalu bergantian membuang kotoran hewan-hewan itu, terutama sapi, wuaduh .. kotorannya minta ampuunn ..!” Si “orang pintar” ini tidak berkata banyak, hanya berdiam diri sambil menerawang jauh. Kemudian berkata, “Baik, kalau begitu sapinya dikeluarkan dari rumah saja.”
Sang suami sambil bersungut-sungut pulang dan menuruti apa kata “orang pintar” tadi, sapi dikeluarkan dari rumah. Ternyata dengan dikeluarkannya sapi dari rumah, pekerjaan membersihkan kotoran hewan memang menjadi berkurang, tetapi seisi rumah tetap saja berbau hewan ternak. Karena tidak tahan dengan bau tersebut, si istri dan kedua anaknya menyarankan sang suami pergi ke “orang pintar” lagi untuk mencari solusi menghilangkan bau hewan ternak; terutama bau kambing.
Sang suami menuruti kemauan anggota keluarganya untuk menemui si “orang pintar” dan mengutarakan masalahnya. Lagi-lagi si “orang pintar” berdiam dan menerawang jauh, seolah-olah sedang berdoa/berdialog dengan Tuhan.
“Mmmm … baiklah, kalau begitu. Keluarkan kambing dari rumahmu! Ini sudah saatnya!” kata “orang pintar”. Kemudian sang suami pulang dan mengeluarkan kambingnya. Seisi rumah bergotong royong, bahu membahu membersihkan seluruh rumah. Sejak peristiwa itu, keluarga tersebut menjadi rukun kembali dan lebih berbahagia. Beberapa hari kemudian, sang suami mendatangi “orang pintar” kembali dan mengucapkan terima kasih serta memuji solusi yang sudah diberikan oleh “orang pintar”. Tetapi apa jawaban si “orang pintar” ?
“Sebenarnya masalah itu muncul dari diri sendiri, hewan ternak dan proses yang sudah dijalani merupakan sebuah pelajaran bahwa ternyata hidupmu dari dulu sudah baik. Jadi tidak ada kaitannya dengan hal-hal yang berbau mistik. Lihatlah, ternyata dengan mengalami hidup yang lebih susah, kamu baru menyadari bahwa hidupmu sudah baik. Sukurilah apa yang sudah kamu dapatkan, dan selalu lihatlah ke bawah!”
Hidup susah: sebuah cerita pendek.
Januari 20, 2008 oleh iwan binanto






semua tergantung kita melihat hidup dari sisi mana orang yang hidupnya penuh dengan harta juga akan ngomong kalo hidupnya masih kurang intinya kita harus bersyukur dan sabar serta tabah
Yup, memang sudah seharusnya kita selalu bersyukur atas segala yang ada pada diri kita.